Mendidik Anak denga Kisah Teladan

Kisah, keterkaiatannya dengan pendidikan anak, memiliki peran yang  sangat penting, lantaran kisah juga merupakan salah satu metode  pengajaran. Dalam Al-Qur`an, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengajarkan  berbagai kisah dari umat-umat terdahulu. Sehingga secara langsung bisa  dipahami, bahwa Islam memberikan perhatian yang besar terhadap masalah  ini, yaitu dengan menyebutkan kisah-kisah yang mendidik dan bermanfaat  sebagai metode dalam menyampaikan pengajaran. Sebagaimana Allah  Subhanahu wa Ta’ala telah mencontohkan kisah tentang Luqman Al-Hakim  yang memberi wasiat kepada anaknya dengan wasiat yang sangat penting dan  berharga.

“Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan  tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan  tentang mereka kepadamu . . .” [An-Nisa/4:164].

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi  orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur`an itu bukanlah cerita yang  dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan  menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum  yang beriman”. [Yusuf/12:111].

Inilah di antara metode yang digunakan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah  dalam masalah pengajaran, yaitu dengan menuturkan kisah-kisah teladan.  Kita dapatkan bahwasanya memberi nasihat dengan menuturkan cerita-cerita  yang menarik, akan memberikan pengaruh yang besar pada jiwa anak-anak,  apalagi jika sang penuturnya juga mempunyai cara yang menarik dalam  menyampaikannya, sehingga mampu mempesona dan memberikan pengaruh  mendalam bagi yang mendengarnya. Karena ciri khas kisah-kisah teladan,  ia mampu memberikan pengaruh bagi yang membacanya maupun yang  mendengarkannya. Oleh karenanya, sepatutnya sebagai pendidik, juga  memberikan perhatian ketika menerapkan metode ini.

Terlebih lagi, di tengah masyarakat sejak dahulu telah merebak berbagai  kisah ataupun hikayat yang tidak diketahui asal-usulnya. Banyaknya  cerita fiktif dan sarat dengan kedustaan yang dijadikan sebagai sandaran  dalam memberikan pengajaran kepada manusia umumnya, dan khusus kepada  anak-anak. Kisah-kisah fiktif ini telah mempengaruhi pola pikir  anak-anak kita. Misalnya menjadikan para penjahat sebagai pahlawan, dan  orang-orang yang buruk perangainya menjadi sang pemenang, ataupun  orang-orang fasik menjadi idola. Ini merupakan kejahatan terhadap  anak-anak kita, dan cepat atau lambat akan menumbuhkan dampak buruk bagi  anak didik kita.

HADIRKAN KISAH-KISAH TELADAN

Setelah mengetahui kandungan dan kemungkinan munculnya dampat negatif  dari kisah-kisah fiktif tersebut, maka menjadi kewajiban kita untuk  mengarahkan anak-anak agar menjauhi kisah-kisah fiktif dan penuh  kedustaan tersebut. Kemudian mereka didekatkan dengan kisah-kisah  teladan penuh hikmah. Misalnya kisah tentang para nabi Allah.  Kisah-kisah teladan inilah yang semestinya  mewarnai kehidupan anak-anak  kita.

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka”.  [Al-An’am/6:90].

Seperti halnya kisah Nabi Yunus Alaihissalam ketika berada di dalam  perut ikan paus, Nabi Sulaiman Alaihissalam dengan burung Hud-Hud, juga  kisah Nabi Yusuf Alaihissalam dengan saudara-saudaranya. Demikian pula  kisah Nabi Musa Alaihissalam dengan Khidir, dan kisah-kisah lainnya.

Begitu juga anak harus didekatkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wa sallam. Dari sirah beliau ini, kita dapat memetik banyak pelajaran,  sejak beliau masih di dalam kandungan, kemudian bapak beliau meninggal,  sehingga beliau lahir dalam keadaan yatim, dan seterusnya. Banyak pula  peristiwa-peristiwa besar yang beliau lewati, sehingga membawa perubahan  besar bagi umat manusia. Begitu juga dengan kisah-kisah yang beliau  tuturkan dalam hadits-hadist yang shahih. Sebab Allah Subhanahu wa  Ta’ala berfirman.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang  baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan  (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah”  [Al-Ahzab/33:21].

Demikian juga kita bisa menuturkan kepada anak-anak dengan kisah-kisah  para sahabat Nabi, sebagaimana yang dipaparkan oleh seorang penyair:

Jika kalian tidak bisa menjadi seperti mereka, (maka) contohlah mereka! Karena sesungguhnya, meneladani orang-orang mulia, merupakan keutamaan. sebagai contoh, kisah yang disebutkan dalam sirah ‘Umar bin ‘Abdil-‘Azis  (Juz 1, hlm 23). Yaitu kisah Amirul-Mukminin ‘Umar bin Khaththab  Radhiyallahu ‘anhu dengan seorang wanita. Tatkala Khalifah ‘Umar bin  Khaththab Radhiyallahu ‘anhu memegang tampuk pemerintahan, beliau  melarang mencampur susu dengan air.

Awal kisah, pada suatu malam Khalifah ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu  ‘anhu pergi ke daerah pinggiran kota Madinah. Untuk istirahat sejenak,  bersandarlah beliau di tembok salah satu rumah. Terdengarlah oleh beliau  suara seorang perempuan yang memerintahkan anak perempuannya untuk  mencampur susu dengan air. Tetapi anak perempuan yang diperintahkan  tersebut menolak dan berkata: “Bagaimana aku hendak mencampurkannya,  sedangkan Khalifah ‘Umar melarangnya?”

Mendengar jawaban anak perempuannya, maka sang ibu menimpalinya: “Umar tidak akan mengetahui.”Mendengar ucapan tersebut, maka anaknya menjawab lagi: “Kalaupun ‘Umar  tidak mengetahui, tetapi Rabb-nya pasti mengetahui. Aku tidak akan  pernah mau melakukannya. Dia telah melarangnya.” Kata-kata anak wanita tersebut telah menghunjam ke dalam hati ‘Umar.  Sehingga pada pagi harinya, anaknya yang bernama ‘Ashim, beliau panggil  untuk pergi ke rumah wanita tersebut. Diceritakanlah ciri-ciri anak  tersebut dan tempat tinggalnya, dan beliau berkata: “Pergilah, wahai  anakku dan nikahilah anak tersebut,” maka menikahlah ‘Ashim dengan  wanita tersebut, dan lahirlah seorang anak perempuan, yang darinya kelak  akan lahir Khalifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Azis.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut ialah sebagai berikut.

– Kesungguhan salaf dalam mendidik anak-anak mereka.

– Selalu menanamkan sifat muraqabah, yaitu selalu merasa diawasi oleh  Allah Azza wa Jalla, baik ketika sendiri atau ketika bersama orang lain.

– Tidak meresa segan untuk memberikan nasihat kepada orang tua.

– Memilihkan suami yang shalih atau istri yang shalihah bagi anak-anaknya.

Penggalan kisah ini hanya sekedar contoh, bagaimana cara kita mengambil  pelajaran berharga dari sebuah kisah, kemudian menanamkannya pada  anak-anak kita, dan masih banyak contoh lainnya, baik di dalam Al-Qur`an  maupun Al-Hadits yang bisa digali dan jadikan sebagai kisah-kisah yang  layak dituturkan kepada anak-anak kita.

PELAJARAN DAN KEUTAMAAN KISAH-KISAH TELADAN

Kisah-kisah teladan mempunyai keistimewaan yang sangat berbeda dengan  kisah-kisah fiktif maupun mitos, yaitu dari sisi kebenarannya, dan  sesuai dengan kenyataan yang ada. Di dalamnya juga terkandung  tujuan-tujuan mulia.

1). Kisah mampu memberikan peran yang penting dalam menarik perhatian,  mengembangkan pikiran dan akal anak. Karena dengan mendengarkannya,  dapat mendatangkan kesenangan dan kegembiraan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa membawakan kisah di hadapan  para sahabat, baik yang muda maupun yang tua. Mereka mendengarkan dengan  penuh perhatian terhadap kisah yang dituturkan beliau, berupa berbagai  peristiwa yang terjadi pada masa lampau, agar bisa mengambil pelajaran  darinya, baik oleh orang-orang sekarang maupun sesudahnya hingga hari  Kiamat
2). Kisah-kisah tersebut bisa membangkitkan kepercayaan anak-anak  terhadap sejarah tokoh yang menjadi tauladan mereka. Sehingga akan  menambah semangat untuk maju, serta membangkitkan semangat ke-islaman  mereka agar lebih mendalam dan menggelora.
3). Kisah-kisah para ulama yang mengamalkan ilmunya, demikian juga  kisah-kisah orang-orang shalih merupakan sarana terbaik untuk menanamkan  berbagai sifat utama pada diri anak-anak, serta mendorongnya untuk siap  mengemban berbagai kesulitan untuk meraih tujuan mulia dan luhur.
4). Kisah-kisah teladan juga akan membangkitkan anak-anak untuk  mengambil teladan dari orang-orang yang mempunyai tekad kuat dan mau  berkorban, sehingga ia akan terus naik menuju derajat yang tinggi dan  terhormat.
5). Tujuan utama menuturkan kisah-kisah teladan tersebut, yaitu untuk  mendidik dan membersihkan jiwa, bukan hanya sekedar untuk  bersenang-senang atau menikmati kisah-kisah itu saja.
Oleh karena itulah, cerita juga memiliki peran sangat penting dalam  mencapai tujuan-tujuan mulia tersebut. Sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi  wa sallam juga banyak memaparkan kisah orang-orang terdahulu kepada  para sahabatnya, untuk kemudian diambil pelajaran dan peringatan  darinya. Kebiasaan beliau n dalam berkisah, beliau mendahului dengan  uangkapan “telah terjadi pada orang-orang sebelum kalian”, kemudian  beliau n menuturkan kisah tersebut, dan para sahabat mendengarkannya  dengan seksama sampai selesai. Dalam hal ini, beliau Shallallahu ‘alaihi  wa sallam menerapkan metode Ilahi, sebagaimana firman-Nya Azza wa  Jalla.{YM}

About mediapromosi78

ask me..

Posted on March 8, 2011, in Satu Hari Satu Ayat Al-Qur'an and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: