UJUNG KEHIDUPAN

Sebelum kematian tiba, kita akan melewati suatu fase yang bernama  sakratulmaut. Sakratulmaut adalah pintu gerbang kita menuju kematian.  Sakratulmaut adalah peristiwa yang amat menakutkan, karena saat  sakrtaulmaut tiba, tak seorangpun dapat membantu dan menolong kita,  kendati saat kritis itu, istri, sanak saudara dan handai tolan sedang  mengelilingi kita. Kita akan bergulat sendirian dengan sakratul maut itu  di tengah keramain orang-orang yang kita cintai dan sayangi. Semua  mereka hanya dapat menatap kita dengan pandangan mata yang hampa. Saat  itulah kita akan merasakan langsung apakah kita termasuk orang yang  telah merancang kematian atau bukan. Apakah kita termasuk orang yang  siap menghadapi kematian atau bukan.

Sakratulmaut adalah bahasa Al-Qur’an yang terdiri dari dua kata  “sakrotan”; pecahan dari kata :  سكر – يسكر – سكرا    (sakiro – yaskaru –  sakran) yang berarti “mabuk atau teler”. Kata “maut”; pecahan dari kata  : مات – يموت – موتا  (maata – yamuutu – mautan) yang berarti “mati”.  Maka Sakratulmaut berarti “kondisi mabuk menghadapi saat kematian’.

Sakratulmaut  juga dapat diakatakan sebagai warming up (pemanasan)  kematian. Karena kematian itu sulit, berat dan amat sakit maka  diperlukan pemanasan. Di samping itu, sebagaimana kehidupan pertama  manusia memerlukan proses dan tahapan, maka kematian juga memerlukan  proses dan tahapan agar bisa memasuki alam lain bernama Barzakh; sebuah  alam yang jauh lebih besar dan sangat berbeda situasi, kondisi dan  lingkungannya dengan bumi saat kita hidup di dunia.

Sakratulmaut adalah sesuatu yang ditakuti manusia. Faktanya, berbagai  riset dan upaya telah dilakukan manusia untuk menghindarinya seperti,  menciptakan obat-obatan untuk memperpanjang umur. Hal tersebut  digambarkan Allah dalam firman-Nya :

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ

Saat datanglah Sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. (Q.S. Qaf: 19 )

Pertanyaan berikutnya ialah, apakah manusia mampu menghindari  Sakratulmaut? Jawabannya tentu ‘mustahil’. Karena Sakratulmaut adalah  voucher manusia untuk masuk ke Alam Barzakh, tempat penginapan mereka  yang ketiga yang sudah disiapkan oleh Pencipta, Raja dan Pemilik alam  semesta ini, yakni Allah Rabbul ‘Alamin, setelah kehidupan dalam rahim  ibu mereka dan kehidupan di atas bumi. Mereka tidak akan dapat mengelak  dan lari dari keharusan melewati sakratulmaut, sebagaimana mereka tidak  bisa mengelak dan menghindar dari  ketentuan dan kehendak-Nya ketika  mereka diciptakan sebelumnya dari tidak ada menjadi ada.

Sebab itu, sebelum Sakratulmaut datang menghampiri kita, Allah  sebagai Pemilik dan Pengendali jagad raya mengajak kita memikirkan dan  menyaksikan kehendak, keputusan dan sistem-Nya tentang Sakratulmaut yang  telah menjadi kenyataan sehari-hari yang kita saksikan seperti yang  tercantum dalam surat Al-Waqi’ah berikut ini:

فَلَوْلا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ (83)  وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ (84) وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ  مِنْكُمْ وَلَكِنْ لا تُبْصِرُونَ (85) فَلَوْلا إِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ  مَدِينِينَ (86) تَرْجِعُونَهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (87)

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, (83) padahal  kamu ketika itu menyaksikan (orang yang sedang  sekarat itu) (84) dan  Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihatnya  (85) maka kalaulah kamu tidak tunduk (pada Kehendak Allah) (86)  (pastilah) kamu (mampu) mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya  semula) jika kamu adalah orang-orang yang benar?” (Q.S. Al-Waqi’ah: 83 – 87)

Tentang kondisi Sakraulmaut tersebut, Sayyid Qutb menjelaskannya  dengan begitu indah dan menarik dalam tafsirnya “Fii Zhilal Al-Qur’an”,  sebagai berikut :

Apa gerangan yang akan Anda lakukan ketika nyawa telah berada di  tenggorokan? Anda sedang berada di persimpangan jalan yang majhul (tidak  diketahui). Kemudian, penggambaran Al-Qur’an yang inspiratif yang  melukiskan semua dimensi sikap dalam sentuhan-sentuahan yang cepat,  mengungkapkan semua kondisi yang sedang dihadapi, latar belakangnya dan  semua yang akan menginspirasikannya… Maka mengapa ketika nyawa sampai di  kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat (orang yang sedang   sekarat itu) dan Kami (dengan malaikat-malaikat)  lebih dekat kepadanya  daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihatnya…

Kita seakan mendengar suara tenggorokan orang yang sedang sekarat dan  melihat tatapan wajahnya, merasakan bencana dan kesulitan (yang  dihadapinya) lewat firman Allah, “Maka mengapa ketika nyawa sampai di  kerongkongan”. Sebagimana kita juga bisa melihat tatapan wajah yang tak  berdaya, putus asa yang dalam raut muka orang-orang yang hadir (di  sekitar orang sedang sekarat itu) lewat firman-Nya “ padahal kamu ketika  itu melihat (orang yang sedang  sekarat itu)”.

Di sini, pada momen ini, sungguh  ruh (nyawa) itu telah selesai  dengan urusan dunia. Ia telah meninggalkan bumi dan seisinya. Ia akan  menyambut dunia yang belum pernah ditempatinya…Ia tidak akan mampu lagi  menguasai sesuatu selain dari apa yang pernah ia tabung sebelumnya…  berupa kebaikan atau kejahatan yang dilakukannya…

Di sini, ia melihat, tapi ia tidak mampu membicarakan apa yang  dilihatnya… Ia telah terpisah dari orang-orang yang ada di sekitarnya  dan apa saja yang ada di sekelilingya…Hanya fisiknya yang bisa  disaksikan oleh yang hadir di sekitarnya…Mereka hanya melihat begitu  saja sedangkan mereka tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi dan  tidak punya kuasa terhadapnya barang sedikitpun….

Di sini, kemampuan manusia terhenti… Ilmu pengetahuan manusia juga tidak  berguna sebagaimana peran manusia juga tidak ada…Di sini, mereka  mengerti, tapi tidak bisa membantahnya. Mereka lemah,….  lemah…..terbatas….terbatas…. Di sini layar diturunkan tanpa mereka  lihat, tanpa sepengetahuan mereka dan tanpa kemampuan bergerak/berbuat.

Di sini, yang berperan hanya Qudrat Ilahiyah (Kekuasaan Allah)… Ilmu  Ilahi…(Ilmu Allah)….Semua urusan murni milik Allah tanpa sedikitpun  keraguan, tanpa bantahan dan tanpa ada kiat-kiat apapun. “dan Kami lebih  dekat kepadanya daripada kamu”. Di sini, terjadi kebesaran sikap yang  membesarkan Kebesaran Allah… Kewibawaan dan kehadiran-Nya –Subhanahu  Wata’ala – sedangkan Dia hadir setiap waktu. Ungkapan itu membangunkan  perasaan akan suatu hakikat (kenyataan) yang dilupakan manusia.. Maka  tiba-tiba, majlis yang menghadiri kematian merasakan seramnya (suasana)   karena didominasi oleh ketakutan, kehadiran dan kebesaran-Nya…Yang  mendominasi ialah ketidakberdayaan, ketakutan, keterputusan dan  perpisahan…

Dalam kondisi liputan perasaan yang gemetaran, berdebar, putus asa,  dan duka lara, datanglah tantangan (Keputusan Allah) yang memotong semua  perkataan dan mengakhiri semua perdebatan : “. Maka jika kamu tidak  tunduk (pada Kehendak Allah), (pastilah) kamu (mampu) mengembalikan   nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?”  Jika sekiranya masalahnya seperti yang kamu katakan : “sesungguhnya  tidak ada perhitungan dan tidak ada balasan”, berarti kamu orang-orang  yang bebas tanpa ada pembalasan dan perhitungan? Jika demikian, kamu  mampu mengembalikan nyawa – yang sudah sampai di tenggorokan itu – agar   kamu hindarkan ia dari kondisnya yang sedang menuju perhitungan dan  balasan itu…Padahal kamu berada di sekitarnya dan sedang menyaksikannya,  sedangkan ia berlalu menuju dunia yang besar, dan kamu diam saja dan  tidak berdaya…

Di sini, gugurlah semua alasan, habislah semua argumentasi, punahlah  semua kiat dan habislah bantahan…Dan tekanan hakikat (kenyataan) ini  membebani diri manusia. Sebab itu, mereka tidak akan mampu  bertahan,(dengan kondisi pembangkangannnya kepada Tuhan Pencipta)  kecuali jika mereka tetap menyombongkan diri tanpa bukti dan  argumentasi”

Terkait dengan sakratulmaut, manusia terbagi kepada tiga golongan.  Pertama, golongan “Muqarrabin”, yakni orang yang dekat dengan Tuhan  Pencipta ketika berada di dunia. Kedua, “Ash-habul Yamin” (Golongan  Kanan) yang merupakan bagian dari ‘Muqorrobin”. Ketiga, golongan  “al-mukadzi-dzibin adh-dhallain”, yakni orang-orang yang menentang dan  menantang kebenaran Tuhan Pencipta dan sistem hidup yang datang dari-Nya  dan tersesat dari jalan yang benar. Tentang ketiga golongan ini  dijelaskan Allah dalam firman-Nya :

فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ (88)  فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ (89) وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ  أَصْحَابِ الْيَمِينِ (90) فَسَلَامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (91)  وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ (92) فَنُزُلٌ مِنْ  حَمِيمٍ (93) وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ (94) إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ  الْيَقِينِ (95) فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ (96)

“Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan  (kepada Allah), (88) maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta  Syurga kenikmatan.(89) Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, (90)  maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan.(91) Dan adapun  jika dia termasuk golongan orang yang menolak (kebenaran Tuhan Pencipta  dan apa saja yang datang dari-Nya) lagi sesat, (92) maka dia mendapat  hidangan air yang mendidih, (93) dan dibakar di dalam Neraka.(94)  Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang  benar.(95) Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha  Besar (96)” (Q.S. Al-Waqi’ah: 88 – 96)

Ibnu Katsir, seorang ahli tafsir terkemuka menjelaskan ayat-ayat  tersebut di atas dengan penjelasan yang sangat indah dan menarik.  Alangkah baiknya kita simak penjelasan Beliau berikut ini : “ Inilah  tiga suasana yang dialami oleh manusia ketika sakratulmaut. Adakalanya  ia termasuk kaum ‘muqorrobin’ atau termasuk  golongan yang ada di bawah  mereka, “Ash-habul Yamin” , yaitu  yang termasuk golongan kanan, dan ada  yang teremasuk orang-orang yang mendustakan kebenaran, yang sesat dari  petunjuk dan tidak tahu menahu tentang perintah Allah (al-mukadzi-dzibin adh-dhallain).

Itulah sebabnya Allah SWT berfirman, “Adapun jika dia termasuk orang  yang didekatkan kepada Allah.” Mereka adalah orang-orang yang setia  mengerjakan hal-hal yang diwajibkan dan di sunnahkan. Dan, meninggalkan  hal-hal yang diharamkan dan dimakruhkan serta sebagian dari yang  diperbolehkan. ”Maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta Syurga  kenikmatan”. Dan, para Malaikat akan menyampaikan berita gembira itu  ketika sakratulmaut tiba, sebagaimana yang diterangkan di dalam hadits  Al-Barra’,  Para Malaikat rahmat akan mengatakan, ‘hai ruh yang baik  dalam jasad yang baik, kamu telah memakmurkannya, keluarlah menuju  ketenteraman, rezeki, dan Tuhan yang tidak murka’.

 

Ruh dan Raihan dalam ayat ini berarti rahmat, rezeki, kegembiraan, dan kesenangan. “Dan Syurga kenikmatan”.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Imam Syafii’ dari Imam Malik dari  Zuhri dari Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik dari Ka’ab bahwa Rasul saw,  bersabda, “ Ruh seorang Mu’min itu berupa (bagaikan) burung yang  bergelantungan pada pohon Syurga sebelum Allah mengembalikan ruh itu ke  jasadnya ketika membangkitkannya kembali.” (pada hari kiamat nanti).

Abul Aliah mengatakan, “Tidak akan dipisahkan nyawa seorang  muqarrabin sebelum dihadirkan kepadanya satu dahan dari kenikmatan  Syurga, lalu ruhnya itu disimpan di sana.” Di dalam sebuah hadits shaheh  dikemukakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ruh-ruh para Syuhada  (orang-orang yang mati sedang berjihad menegakkan agama Allah) itu dalam  tembolok  burung hijau yang  berterbangan di taman-taman Syurga kemana  saja mereka kehendaki,  kemudian bermalam pada pelita-pelita yang  bergelantungan pada Arasy.”

Allah SWT berfirman, “Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan.”.  Yaitu, jika orang yang sedang mengalami sakratulmaut itu termauk  golongan kanan, “maka keselamatan bagimu, karena kamu termasuk golongan  kanan.” Yaitu, para Malaikat akan menyampaikan kabar gembira itu kepada  mereka. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang  yang mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan  pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, ’Janganlah  kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah  kamu dengan Syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’ Kamilah  pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan dunia dan di Akhirat; di  dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan di dalamnya kamu  memperoleh pula apa yang kamu minta. Sebagai hidangan dari Tuhan Yang  Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fush-shilat : 30 – 32)

Imam Bukhari mengatakan, “Maka salam sejahtera bagimu,” yaitu disampaikan salam kepadamu bahwa kamu termasuk golongan kanan.

Allah SWT berfirman, “ Dan adapun jika dia termasuk golongan orang  yang mendustakan lagi sesat, maka dia akan mendapatkan hidangan air yang  mendidih, dan dibakar di dalam Neraka.” Yaitu, bila orang yang tengah  mengalami sakratulmaut itu termasuk golongan yang mendustakan kebenaran  dan sesat dari jalan petunjuk, “maka dia mendapatkan hidangan dari air  yang mendidih,” Yaitu cairan yang akan melelehkan isi perut dan  kulit-kulit mereka. ” Dan dibakar di dalam Neraka,” yaitu dia akan  ditempatkan di dalam api Neraka yang akan menyelimutinya dari semua  arah.

Kemudian Allah berfirman, “Sesungguhnya ini adalah suatu keyakinan  yang benar,” yang tidak diragukan lagi. Tidak ada seorang pun yang dapat  menghindarinya. Dan dia adalah berita yang menjadi saksi. “Maka  bertasbihlah dengan nama Tuhanmu yang Maha Besar.” Diriwayatkan oleh  Imam Ahmad bahwa U’qbah bin Amir Al-Juhani berkata, “Maka bertasbihlan  dengan nama Tuhanmu yang Maha Besar, (subhana Robiyal ‘Azhim)‘  Rasulullah mengatakan, ‘Jadikanlah ayat ini bacaan ruku’ kamu.’ Dan  ketika turun wahyu kepada beliau, ‘Maka sucikanlah Tuhanmu yang Maha  Tinggi,’(subhana Robbiyal A’la). Rasulullah mengatakan, jadikanlah ayat  ini sebagai bacaan sujud kamu.”

Setelah kita melewati “Sakratulmaut”  berarti kita sedang berada pada  batas terakhir dari perjalanan kita di dunia dan di batas awal memasuki  dunia baru yang bernama Barzakh. Untuk memasuki dunia baru tersebut  terlebih dulu kita harus membuka pintu masuknya. Pintu masuknya itu  bernama “Kematian”. Ya, Kematian… Itulah fase yang harus kita lewati  setelah melewati fase Sakratulmaut. Dengan kematian itu kita berhak  mendapatkan tempat di alam Barzakh.

Kematian adalah sesuatu yang ditakuti banyak orang. Kendati pada  kenyataanya, tidak ada seorangpun yang dapat menghindari atau lari dari  kematian itu.  Siapapun dia, Presidenkah, Rajakah dia, Konglomerat kah  dia, Jendral berbintang lima kah dia, di mana dan kapanpun mereka  berada. Mereka pasti mati.

Ust. H. Fathuddin Ja’far

About mediapromosi78

ask me..

Posted on March 3, 2011, in Satu Hari Satu Ayat Al-Qur'an and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: