MENJAGA STAMINA IMAN

Pertama  kali baca judul artikel ini saya merasa dalam keadaan prima namun setelah dibaca isinya mulai deh kebuka “jauh panggang dari api”  dan saya merasa penting untuk berbagi dengan agan-agan semua, semoga bermanfaat bagi saya dan agan semua amin….

 

MENJAGA STAMINA IMAN (1)

Masjid Al Murosalah, Telkom Learning Center, Jl. Gegerkalong Hilir 47 Bandung

Penceramah : Dr. Aam Amiruddin

Session Materi :

Iman manusia selalu mengalami fluktuatif atau naik turun, terkadang iman kita naik tapi terkadang juga turun. Namun terkadang lebih sering turun dibanding naik. Syukur Alhamdulillah jika iman kita selalu mengalami progress atau kemajuan yang sangat signifikan. Lalu bagaimana cara agar kita dapat menjaga iman kita agar tetap kuat, atau stamina iman kita tetap bagus. Dalam pembahasan kali ini akan terbagi menjadi 3 sub atau 3 bagian,

Pertama “Ciri-ciri iman yang lemah”,

Kedua “Hal-hal yang dapat melemahkan iman”

Ketiga “Cara agar iman kita tetap kokoh atau kuat.”

Ciri-ciri Iman yang lemah:

1. Mengalami kegersangan hati

Sholeh dan tidaknya seseorang atau kuat lemahnya iman seseorang tidak ditentukan oleh akal, tapi kuat dan lemahnya iman seseorang bisa dipastikan dengan ‘sehat’nya hati, dan ditentukan oleh bersihnya hati. Boleh jadi seseorang yang kurang cerdas (maaf), akan tetapi hatinya bersih maka bisa jadi imannya lebih kuat dibandingkan dengan seseorang yang cerdas tapi hatinya kotor atau gersang.

Ciri-ciri hati yang gersang:

a. Tidak merasa nikmat dalam beribadah

Apakah anda merasa hambar ketika shalat? Tidak ada sedikitpun kenikmatan ketika sedang melaksanakan shalat?. Esensialnya semua ibadah itu membawa atau memberikan

kenikmatan, akan tetapi tidak semua orang dapat merasakannya. Misalnya, ketika anda

membeli semangkuk baso atau lontong kari, anda merasa tidak enak untuk memakannya

berarti ada yang salah dengan kondisi perasa dan perut anda.

Berarti disini permasalahannya adalah bukan karena baso atau lontong karinya yang bermasalah akan tetapi perut anda nya yang sedang bermasalah, begitupun dalam beribadah. Jika hati kita sedang gersang, seenak apapun ibadah tidak akan terasa nikmat, sebaliknya jika hati kita sedang sehat atau bersih ibadah apapun akan terasa nikmat.

 

b. Pesimis dalam berdo’a

Kalau kita sedang berdoa, akan tetapi yang muncul adalah rasa pesimis doa terkabul, maka

bisa jadi hati kita sedang gersang atau sedang tidak sehat.

 

c. Sulit memaafkan kesalahan orang lain

Hidup itu tidak bisa lepas dari pergaulan, dalam berinterakif setiap orang memiliki tabiat yang berbeda-beda, kalau hati kita sedang gersang ketika hati kita tersinggung maka sulit untuk memaafkan. Tidak hanya itu biasanya, orang yang hatinya gersang akan merasa gengsi untuk meminta maaf, ketika dia berbuat kesalahan. Padahal cirri manusia beriman adalah bersegera member maaf dan meminta maaf.

 

d. Menderita ketika orang lain sukses dan bahagia ketika orang lain menderita.

Ketika orang lain mendapatkan kebahagiaan, hatinya merasa tidak bahagia dan sebaliknya

ketika temannya atau orang lain mendapatkan kesusahan maka hatinya akan bahagia. Itulah yang disebut iri/dengki.

e. Mudah keluh kesah

Jika sekali-kali mungkin masih dalam batas yang wajar, akan tetapi jika keluh kesah sudah

menjadi rutinitas sehari-hari maka hati-hati bisa jadi hati kita sedang gersang. Lupa bahwa

kenikmatan dan susah itu adalah karunia ujian Allah SWT.

 

f. Mudah putus asa

Putus asa tidak selalu identik dengan bunuh diri, akan tetapi jika misalnya seorang ibu yangmenyuruh kepada anaknya untuk shalat kemudian anak tersebut tak juga mendengarnya, lalu kemudian ibu itu berkata “ahh, sudahlah terserah kamu mau shalat atau tidak…” maka itusudah termasuk mudah putus asa, hati anda sedang dalam keadaan gersang. Yang memberikan terbukanya hati hanyalah Allah, kita hanya sebagai sarana. Jadi jangan mudah kecewa dan putus asa.

 

g. Cenderung pelit

Kikir dan enggan untuk membantu orang lain. Pelit tidak selalu diidentikan dengan uang,

akan tetapi bisa jadi dalam bentuk lain, misalnya pelit dalam berbagi ilmu, pelit dalam

membantu orang lain.

 

2. Mudah diperbudak hawa nafsu (Q.S 45: 23)

Dalam diri manusia ada tiga macam nafsu nafsu yang saling berkompetensi/bersaing. Seharusnya

bisa diatur/manajemen dengan sebaik-baiknya.

a. Nafsu mutmainah yaitu nafsu yang mendorong untuk berbuat kebaikan.

b. Nafsu lawamah yaitu dorongan nafsu yang suka mengkoreksi.

c. Nafsu amarah yaitu nafsu yang suka mendorong untuk berbuat dosa.

 

3. Tidak punya rasa memiliki terhadap ajaran agama.

Jika kita memiliki suatu barang, dan anda mempunyai rasa memiliki terhadap barang tersebut, maka anda akan merawat menjaganya dengan baik, dan ketika ada seseorang yang menghina maka anda akan membela. Rasa memiliki bisa diartikan juga sebagai rasa ‘butuh’ akan pentingnya agama. Begitu pula jika kita memiliki rasa terhadap ajaran agama, maka anda akan menjaganya dengan baik, ketika ada

yang menghina agama maka anda akan merasa tersinggung bahkan marah, anda akan membela agama anda, jika anda mempunyai rasa memiliki terhadap ajaran agama.

Jika tidak mempunyai rasa memiliki terhadap ajaran agama, maka secara otomatis akan

menyebabkan :

a. Tidak mau mempelajari

b. Tidak mau mendakwahkan

c. Tidak mau membanggakan

About mediapromosi78

ask me..

Posted on February 1, 2011, in Satu Hari Satu Ayat Al-Qur'an and tagged . Bookmark the permalink. 7 Comments.

  1. nice info gan..sangan membantu.

  2. NICE INFO NYA..
    MOGA SAYA,KELUARGA DAN SAUDAR2 MUSLIM INGAT SELALU DENGAN ALLAH.SWT

  1. Pingback: Menjaga Stamina Iman « Engkaryadi's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: